Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Percepat Hilirisasi Riset Kampus
27 Juni 2026 14:52 WIB
Riko Marbun
Photo: cha/istimewa
Jakarta, Sonora.co.id - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri guna mempercepat hilirisasi hasil riset kampus. Upaya tersebut dinilai penting agar berbagai inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Pernyataan itu disampaikan Brian kepada wartawan di sela-sela Sarasehan Kebangsaan dalam rangkaian Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Brian mengatakan pihaknya tengah membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi dengan Danantara dan berbagai pelaku industri. Menurut dia, hasil-hasil penelitian yang selama ini berkembang di kampus perlu didorong agar dapat diterapkan dan dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
"Penelitian-penelitian yang berjalan di perguruan tinggi diharapkan dapat berinteraksi dengan Danantara dan berbagai kegiatan hilirisasi yang sedang berjalan. Dengan begitu, inovasi yang dihasilkan kampus bisa dimanfaatkan secara nyata oleh industri," ujar Brian.
Ia menambahkan, Danantara juga membuka peluang kerja sama untuk pengembangan berbagai produk inovatif, termasuk yang berasal dari sektor industri kreatif. Melalui sinergi tersebut, hasil karya perguruan tinggi diharapkan dapat memasuki tahap komersialisasi dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Pernyataan Brian tersebut diperkuat oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani. Menurut Rosan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung agenda hilirisasi yang menjadi salah satu prioritas pemerintah.
"Kami sangat mengharapkan masukan dari seluruh universitas agar hilirisasi bisa menjadi lebih baik, lebih efisien, dan lebih produktif. Kami yakin keberadaan para akademisi, peneliti, dan mahasiswa akan memberikan dampak yang sangat positif bagi pengembangan industri nasional," kata Rosan.
Rosan menjelaskan, kontribusi investasi hilirisasi terhadap total investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) di Indonesia terus meningkat. Jika sebelumnya berada di kisaran 25 persen, kini telah mencapai sekitar 30 persen dari total FDI yang masuk ke Indonesia.
Menurut dia, selama ini investasi hilirisasi masih banyak terkonsentrasi pada sektor mineral. Namun, pemerintah mulai memperluas fokus pengembangan ke sektor lain seperti perikanan, kelautan, perkebunan, dan pertanian yang memiliki potensi besar untuk menciptakan nilai tambah.
"Kami melihat potensi yang luar biasa di sektor-sektor tersebut. Karena itu, investasi hilirisasi ke depan tidak hanya bertumpu pada mineral, tetapi juga komoditas strategis lainnya seperti kelapa sawit dan rumput laut," jelasnya.
Rosan mencontohkan investasi hilirisasi kelapa sawit yang meskipun nilainya sekitar 100 juta dolar AS, mampu menyerap hingga 10 ribu tenaga kerja. Hal tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi dapat menjadi instrumen penting dalam menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri, Rosan berharap berbagai hasil riset dan inovasi yang lahir di kampus dapat dihilirisasi secara lebih cepat sehingga mampu mendukung agenda industrialisasi dan kemandirian ekonomi Indonesia.
News
View MoreOur Services
Sonora Education And Talent Management
Empowering Talent Development & Soft Skills Training.
Research Solution
Your Research Solution for Comprehensive Coverage, Reliable Sources, and Diverse Perspectives